Sebuah Wisuda
Kebetulan pada hari Senin yang lalu saya menghadiri sebuah acara wisuda. Kebetulan juga ada kejadian kecil yang mengingatkan saya pada kejadian lainnya yang saya pikir cukup menarik juga untuk saya ceritakan di blog ini.
Sebagaimana semua prosesi wisuda, tentulah ada acara salam-salaman antara para wisudawan dengan para pimpinan universitas. Jika Anda adalah wisudawan, barangkali ini bagian yang cukup membuat deg-degan: menunggu giliran dipanggil kedepan, membayangkan Anda akhirnya mengambil selembar kertas yangg menjadi legitimasi kerja keras Anda selama beberapa tahun, atau sekedar bersalaman dengan rektor yang seumur-umur Anda kuliah tidak pernah bersalaman dengan Anda. Tapi buat orang yang menemani Anda, prosesi salaman ini membosankan setengah mati! Karena bosan itulah, setelah adik saya sang wisudawan bersalaman, saya memutuskan keluar dari gedung wisuda. Bersama saya, ikut nenek saya, “mau ke belakang”, katanya.
Saat itulah seorang juru foto menghampiri kami, membawa foto nenek dan adik saya yang rupanya ia foto saat pertama kali kami datang tadi. Berhubung saya dan keluarga sudah foto di studio foto terlebih dulu pada pagi harinya, dengan spontan reaksi awal saya adalah mengucapkan, “maaf Mas, udah foto”.
Wisuda Lainnya
Pengalaman singkat tadi mengingatkan saya pada sebuah wisuda lainnya yang saya hadiri Oktober lalu. Salah seorang sahabat karib saya menyelesaikan studi magisternya di kota Bandung. Saya pikir tak ada salahnya jika saya izin sekedar satu atau dua jam dari kantor untuk bisa mampir ke tempat wisuda sahabat tersebut. Toh tempat wisudanya juga dekat dengan kantor saya.
Ketika saya datang, waktu itu sehabis shalat Jumat, acara formal sudah selesai. Sahabat saya ini bisa keluar gedung untuk menghampiri saya. Satu hal yang saya ingat betul, teman saya ini mencari-cari juru foto. Saya tanyakan padanya, “nyari apa boy?”
“Tukang foto, tadi dia moto gw sama bokap nyokap”.
Mendengar ini, saya jadi paham arti pentingnya foto itu buat dia. Sedikit informasi buat Anda, teman saya ini orangtuanya bercerai sejak dia masih usia sekolah dasar. Saya ingat dia bilang, “ini jarang-jarang gw foto bareng bokap nyokap sekaligus”.
Saya akhirnya menemani teman tersebut cukup lama. Ia bertanya dari satu juru foto ke juru foto lainnya, mencari juru foto manakah yang tadi mengambil gambarnya. Akhir cerita, kami tidak menemukan juru foto tersebut. Teman saya meninggalkan nomor ponselnya kepada seorang juru foto yang bilang akan membantu mencarikan. Meskipun rasanya sulit mencari foto hanya berdasakan ciri-ciri fisik yang tidak begitu unik diantara ratusan wisudawan hari itu. Anda mau mencari foto dengan deskripsi “yang kurus” atau “yang gendut” pun sepertinya ada lusinan foto yang seperti itu. Lain cerita kalau teman saya ini mirip Sule, misalnya.
Soal Makna
Ternyata memang nilai sebuah benda itu sedikit banyak persoalan makna. Buat saya dan Anda, mungkin foto yang diambil oleh juru foto ecerean di sekitar acara-acara seperti wisuda itu tidak ada artinya. Dalam kasus teman saya ini, foto ini barangkali satu-satunya foto dia bersama kedua orang tuanya lengkap setelah sekian tahun. Saya bisa saja menerka-nerka seberapa penting foto ini maknanya buat dia, tapi rasanya tidak akan tepat benar menggambarkan apa yang dia rasakan.
Dalam keseharian sepertinya begitu juga, ada hal-hal yang kalau dari luar tampaknya biasa-biasa saja: sepatu yang sudah tampak butut tapi ternyata kado pertama dari kekasih, atau jam tangan tua tapi ternyata warisan dari ayah. Kadang untuk bisa membuat sesuatu bernilai, yang kita butuhkan sebenarnya bukan harga yang mahal, fitur yang lengkap, atau desain yang terbaru. Kadang yang kita perlukan hanyalah mengikat makna.
Aih, melankolis sekali!